Syukur alhamdulillah…
Di kantor, kita secara rutin melakukan latihan penanganan kebakaran. Lha… kenapa alhamdulillah?
Ya iya dwonk. Setidaknya latihan ini membuat diri menjadi lebih waspada dan juga membuat respon diri sesuai dengan harapan jika (amit-amit jangan sampeee) ada kejadian darurat kebakaran. Dengan demikian, secara reflek dalam darurat maka pola pikir dan bawah sadar kita membimbing untuk berperilaku sesuai dengan latihan yang diberikan.
Alhamdulillah bukan?

Jangan lupa satu hal penting, bahwa latihan kebakaran ini juga meliputi kegiatan pencegahan.
Sehingga reflek ini tidak hanya untuk melakukan tindakan saat darurat, namun juga perilaku keseharian pun tidak lepas dari pola keselamatan mencegah kebakaran. 

Dalam latihan darurat kebakaran ini, ada beberapa hal yang disiapkan. Diantaranya :

a. Teknik evakuasi
Dalam evakuasi, tentunya ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan seperti :
1. Prioritas, yang diutamakan adalah
Wanita hamil,
Sakit khusus (dengan alat pacu jantung, dsb),
Wanita & anak-anak,
baru laki-laki (hehehe… pantesan jumlah laki-laki lebih dikit dari perempuan kekeke… – alesan ya?)

2. Jalur evakuasi, untuk jalur evakuasi yang disiapkan adalah :
Lokasi berkumpul evakuasi yang aman.
Disini semua anggota berkumpul untuk di cek kehadirannya (supaya ketahuan ada yang ketinggalan apa nggak gitu lhoo).
Tangga darurat.
Jalur evakuasi ini biasanya menggunakan tangga darurat saat kebakaran. Karena lift dikatagorikan tidak aman untuk digunakan (penggeraknya kan dari listrik, kalo kebakaran pasokan listrik kemungkinan diputus).
Jangan panik.
Yak.. jangan panik, karena kalau panik kita akan saling dorong dan berperilaku yang dapat membahayakan diri sendiri juga orang lain. So… kita harus berfikir jernih yak.

b. Pengecekan infrastruktur
Infrastruktur yang baik tentunya menyediakan kemudahan saat kondisi darurat kebakaran, seperti :
APAR (Alat Pemadam Api Ringan),
bisa berbentuk gas (CO), bubuk atau busa. Tergantung jenis bahan / asal api yang dihadapi. Misal : untuk minyak cocok dengan APAR busa atau bubuk. Untuk buku/kertas bisa pakai gas/bubuk. 
Hydrant (pemadam api lebih lengkap dengan pipa dan air bertekanan),
ingat pengoperasiannya butuh pelatihan khusus dan beregu supaya lebih kuat dan terorganisir.
Alarm/detektor,
Gunanya untuk mendeteksi / memperingatkan tentang adanya bahaya kebakaran. Untuk detektor ini bisa pakai detektor panas atau asap.
Area berkumpul,
Perlu disiapkan area berkumpul dimana orang dievakuasi di area ini. Dengan ditetapkannya area berkumpul maka orang-orang dipastikan dapat didata, dan yang penting menuju tempat yang aman yang disepakati.

c. Pencegahan
Pencegahan lebih baik daripada mengobati.
Yak betul, lebih baik kita mencegah terjadinya kebakaran dibandingkan memadamkan api yang telah muncul. Tentunya kerugian telah muncul. So, mari sama-sama kita hindarkan kemungkinan munculnya potensi kebakaran. Salah satu diantaranya adalah :
Instalasi yang baik,
Misalnya sambungan listrik dengan bahan yang sesuai spesifikasi kelistrikan yang ditetapkan, juga dengan metode instalasi yang baik. Misalnya ukuran besar kabel dan cara penyambungan sesuai rekomendasi pabrikan.
Penggunaan yang baik,
Misalnya dengan tidak menggunakan sambungan/extention kabel yang berlebihan.
Gedung/rumah
Apabila membangun gedung/rumah, pastikan alur evakuasi saat darurat. Juga alat-alat kelengkapan keselamatan setidaknya kita perhitungkan. Misalnya kalau gedung kita tinggi (tidak terjangkau oleh semprotan air), pastikan alat pemadaman internal gedung juga memadai. Atau mungkin dengan Helipad (sering kali gedung bertingkat nggak menyediakan fasilitas ini). Atau kalau rumah kita model BTN kayak rumah saya, sediakan alternatif pintu keluar (tidak cuman satu hehehe…) 

Semoga berguna buat kita semua ya…
Meskipun ini semua dari pengalaman selama latihan di kantor, diharapkan dapat memberikan informasi yang sangat dasar untuk kita dan keluarga (orang-orang yang kita kasihi). Selamat berbagi yak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*